Pemerintah Hadapi Tantangan Serius

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on December 2, 2011 in mine |

JAKARTA, KOMPAS.com – Komite Tetap Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin), menilai pemerintah serius dan menaruh perhatian yang besar soal ketahanan pangan di tengah-tengah situasi dunia yang penuh tantangan.

Namun sejumlah masalah seperti di antaranya soal wilayah yang luas, harga yang tinggi, kemampuan dan daya beli, teknologi, riset dan pengembangan hingga berlakunya otonomi daerah, menimbulkan tantangan tersendiri bagi pemerintah.

Hal itu dilontarkan Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin, Franciscus Welirang, saat ditanya Kompas di ruang kerjanya di Gedung Wisma Indocemen, Jakarta, Kamis (1/12/2011) ini.

“Indonesia, sangat serius menyikapi ketahanan pangan. Namun, ada sejumlah masalah yang menjadi tantangan dalam kebijakan ketahanan pangan sekarang ini,” kata Welirang.

Menurut dia, Indonesia bukan benua, akan tetapi negara maritim. “Oleh karena itu, bagaimana hubungan antarwilayah. Inilah yang membuat masalah ketahanan pangan adalah masalah konektivitas. Bagaimana angkutan bisa dijalankan untuk menghubungkan antardaerah, jika tidak ada konektivitas,” kata Welirang yang juga Direktur PT Indofood Sukses Makmur.

Franciscus Welirang mengatakan, dalam ketahanan pangan, pengertian swasembada sekarang ini adalah jika tidak impor beras dalam jumlah yang sangat besar. “Jika produksi 36 juta ton per tahun, apakah impor 1,5-1,7 juta ton itu bisa diterima atau tidak? Kalau kemudian impornya menjadi besar, bisa-bisa saja terjadi. Namun, pertanyaannya apakah hal itu efektif,” katanya lagi.

“Dengan lahan produksi 12 juta setahun, apakah masih efektif hasilnya? Inilah tantangan kita dalam ketahanan pangan, terutama dari sisi lahan dan infrastrukturnya,” tambahnya.

Belum lagi soal budaya petani dalam menanam, di mana petani memiliki hak memilih benih yang ditanam, pola tanam, dan pola pemberian pupuk.

“Juga soal pembiayaan dan anggaran itu menentukan meningkatkan ketahanan pangan secara nasional. Pembiayaan perbankan bagi sektor pertanian sangat ditentukan dengan musim, sehingga berbeda dengan penerapan perbankan terhadap industri yang berorintasi pada produksi. Karena itu, tak tepat dukungan pendanaan dari perbankan,” papar Franciscus lagi.

Tantangan lainnya ketahanan pangan, yaitu soal otonomi daerah di lebih dari 500 kabupaten/kota. “Berhasil atau tidaknya ketahanan pangan bergantung pelaksanaan di daerah. Kalau daerahnya tak benar, jebol juga ketahanan pangan kita,” kata Franciscus. (har)

Pemberian Vaksin di Sore Hari Lebih Efektif

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on December 2, 2011 in mine |

Kompas.com – Sore hari diklaim menjadi waktu terbaik untuk melakukan vaksinasi pada anak. Selain respon kekebalan tubuh terhadap vaksin lebih baik, anak-anak juga tidur lebih nyenyak setelah vaksinasi.

Tidur yang berkualitas sangat penting pasca vaksin karena hal itu akan memfasilitasi respon imun dan meningkatkan produksi antibodi.

“Bayi yang divaksin di sore hari tidur lebih lama dan nyenyak dibanding dengan bayi yang divaksin di siang hari, atau pada pagi hari,” kata Dr.Kim Giuliano, dokter anak dari Cleveland Clinic, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Penelitian yang dilakukan peneliti dari Universitas California, San Francisco, melibatkan 70 bayi. Para peneliti menemukan bayi yang mendapat vaksin setelah jam 1.30 siang tidur lebih lama dibanding bayi yang divaksin lebih awal.

Kebanyakan bayi yang mendapat suntikan vaksin di siang hari mengalami peningkatan suhu tubuh. Demam ringan yang diatasi dengan pemberian obat penurun panas (asetaminofen) ini menyebabkan waktu tidur bayi berkurang.

Menurut Giuliano, orangtua sebaiknya tidak membiasakan memberi asetaminofen pada anak setelah divaksin untuk mencegah demam.

Pertumbuhan Penduduk, Sebuah Ancaman

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on November 7, 2011 in mine |

Dalam perhitungan statistik populasi penduduk dunia PBB, bayi yang lahir pada hari Senin (31/10/2011) adalah warga dunia yang ketujuh miliar. Hal itu terungkap dari sebuah laporan Kondisi Populasi Dunia 2011 yang dikeluarkan PBB. Jumlah penduduk dunia yang mencapai tujuh miliar itu dianggap bukan sekedar krisis, tapi juga sebagai momen untuk bertindak. Masyarakat dunia harus sadar bahwa angka itu merupakan tanda bahaya bagi dunia. Jumlah yang semakin banyak itu akan menimbulkan dampak pada pelaksanaan kehidupan berbangsa. Manusia harus menjamin kesehatan, pendidikan, kesejahteraan dan keamanan hak hidup berdampingan dengan sesamanya. Satu abad lalu jumlah populasi manusia hanya 1,65 miliar jiwa. Hanya dalam kurun waktu satu abad saja, jumlah populasi manusia ternyata mengalami penambahan hingga 4 kali lipat. Risiko ledakan penduduk akan semakin luar biasa pada tahun 2100, jumlah penduduk mencapai 10 miliar. (Korando)

Kemandirian Pangan untuk Memerangi Kelaparan

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on October 17, 2011 in Uncategorized |

SINDO (17/10/11)Kelaparan masih tinggi, salah satunya akibat instabilitas harga pangan. Di tingkat global, saat ini 925 juta warga kekurangan gizi.

Jumlah ini menurun dari 2009 (1,023 miliar),tapi masih di atas angka sebelum krisis 2008/2009 (FAO, 2010). FAO mencatat, tiap enam detik seorang anak mati karena kelaparan. Di tingkat nasional,kelaparan tidak kalah mengerikan. Ini bisa dibaca dari Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia 2009.Di tengah klaim swasembada beras, sejumlah daerah masih terkungkung ancaman kelaparan. Umumnya, daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap rawan pangan memiliki angka kemiskinan tinggi.

Sejumlah daerah yang memiliki tingkat ketahanan pangan baik dan sangat baik masih ditemui pada balita dan anak menderita underweight dan kurang gizi kronis. Secara nasional, angka prevalensi kurang gizi kronis tercatat 36,8%, angka yang tinggi dan menjadi penghalang serius pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs). Sebanyak 17 provinsi memiliki angka gizi kurang, kronis tinggi, dan sangat tinggi. Mengapa ini terjadi? Data Badan Pusat Statistik (BPS) 10 tahun terakhir menunjukkan, sejak 1999 hingga 2010 total neraca ekspor-impor pertanian Indonesia masih bersifat positif.

Kondisi tersebut terutama didukung terus membaiknya kinerja subsektor perkebunan. Sebaliknya, neraca subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan masih bersifat negatif. Ini mengindikasikan ada yang salah dalam pengelolaan sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan. Dari ketiga subksektor, defisit terbesar terjadi pada subsektor tanaman pangan, disusul peternakan dan hortikultura. Tahun 2010 defisit subsektor tanaman pangan mencapai USD3.416 juta atau Rp30,74 triliun (kurs Rp9.000 per dolar AS).

Angka ini porsinya sekitar 2,3% APBN, jauh di atas anggaran Kementerian Pertanian tahun 2011 (Rp16,7 triliun). Apabila ditambah dengan defisit subsektor peternakan,nilainya akan menjadi sebesar Rp62,29 triliun, jauh melampaui seluruh anggaran pemerintah untuk pembangunan pertanian,baik anggaran langsung maupun tidak langsung. Defisit adalah cerminan adanya impor. Meski produksi padi, jagung dan gula naik, sampai saat ini kita belum bisa keluar dari ketergantungan impor sejumlah pangan penting: susu (70% dari kebutuhan), gula (30%), garam (50%), gandum (100%), kedelai (70%),daging sapi (30%),induk ayam,dan telur.

Ironisnya, impor tersebut sepertinya tidak ada tanda-tanda berakhir, bahkan cenderung membesar. Dalam empat tahun (2004–2008) nilai impor meledak lebih dua kali, dari USD2,728 miliar (2004) jadi USD5,879 miliar (2008). Padahal, volume impor hanya naik 12%. Ini menunjukkan harga pangan semakin mahal. Pertambahan penduduk, tarikan pangan untuk bahan bakar dan gagal panen akibat perubahan iklim akan membuat harga pangan dunia terus melonjak. Bagi negara berpenduduk besar seperti Indonesia, menggantungkan pada pangan impor tidak menguntungkan.

Pertama, pasar pangan utama (beras, gula, gandum, kedelai, jagung, daging) dikuasai segelintir pelaku, pasarnya jauh dari sempurna, bahkan mendekati pasar oligopoli.Dengan kondisi seperti itu,harga pangan di pasar duniatidakstabil.Naik-turunnya harga mudah di-remote, tinggal menunggu momentum yang ada. Kedua, sebagian besar pangan yang diimpor sebetulnya bisa diproduksi di lahan sendiri, seperti gula,kedelai,susu, dan garam. Hanya gandum yang tidak efisien ditanam sendiri.Namun, tepung terigu bisa disulih dari tepung ubi jalar,ubi kayu,atau sukun.

Dari semua impor pangan yang terbesar adalah gandum. Pada 2008 impor 5,1 juta ton gandum nilainya USD2,246 miliar, disusul impor kedelai 3,4 juta ton senilai USD1,735 miliar. Tanpa ada kebijakan yang tegas, terukur, dan berdimensi jangka panjang, impor pangan akan terus membesar,dan salah kelola pertanian-pangan akan berlanjut tanpa a d a koreksi. Ada sejumlah langkah mendesak yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, memastikan sumber daya alam (tanah, air, hutan, dan sumber-sumber produksi lain) ada dalam kontrol petani/komunitas lokal.

Perlu penataan ulang penguasaan/ kepemilikan sumber daya lewat reforma agraria. Kedua, sumber daya itu harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memproduksi aneka pangan lokal sesuai keanekaragaman hayati dan kearifan lokal.Fokus kebijakan harus digeser, tak hanya beras tapi juga pangan nonberas. Ketiga, mendahulukan pengembangan aneka pangan yang bisa diproduksi sendiri ketimbang impor.Kekeliruan berupapengabaiankeragamanhayati dan kearifan lokal, modal utama kedaulatan pangan,dikoreksi. Komersialisasi dan paten kehidupan harus dihindari.

Petani/komunitas harus didorong bisa membuat bibit, pupuk dan pestisida sendiri. Penyeragaman “paket teknologi” dan komoditas monokultur harus diakhiri, dan digantikan teknologi (pengetahuan lokal dan komoditas lokal) setempat yang beragam. Keempat, membalik model pertanian ekspor-industrialmonokultur ke model lokal-keluarga/ komunitas-multikultur. Model pertanian ekspor-industrial- monokultur bukan resep ajaib mengatasi kemiskinan dan kelaparan (IAASTD,2008).

Model itu menghancurkan lingkungan (air dan tanah),mengerosi keanekaragaman hayati dan kearifan lokal (pola tanam, waktu tanam, olah tanah, pengendalian hama), dan mengekspos warga pada kerentanan. Pertanian keluarga/kecil lebih produktif, pejal dan bisa beradaptasi, ini sekaligus model keberlanjutan yang ramah keanekaragaman hayati dan kearifan lokal.Pertanian skala kecil juga ramah perubahan iklim (Altieri,2008). Kelima, merancang ulang pasar pertanian pangan. Liberalisasi kebablasan harus dikoreksi. Pada saat bersamaan, harus dikembangkan perdagangan yang adil (fair trade), terutama buat petani,dan mendorong pasar lokal.

Bisa diadopsi penetapan harga pantas (fair price), yang terdiri dari harga BEP (break even point), plus asuransi gagal panen (50% dari BEP), tabungan masa depan (10% dari BEP), dan tabungan pengembangan usaha (10% dari BEP) (Hadiwinata, 2004). Keenam, menyusun langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang masif dan komprehensif. Becermin pada keberhasilan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu, sekolah lapang iklim harus dimassalkan. Melalui sekolah ini, petani diajari “membaca” peta iklim, menyusun pola tanam, dan memperkirakan hasil.

Riset-riset dan produksi bibit varietas genjah, berdaya hasil tinggi,tahan cekaman air, salinisasi dan zat beracun harus digenjot. Secara integral, juga harus dikembangkan asuransi pertanian. Disertai komitmen anggaran yang jelas dan konsistensi kebijakan,berbagai langkah besar di atas diyakini akan bisa menjamin kemandirian pangan untuk memerangi kelaparan.

Seberapa Banyak Kita Pakai Otak?

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on October 15, 2011 in Uncategorized |

Dasar, punya otak cuma 1 ons! Omelan semacam itu kadang dilontarkan seseorang yang kesal menghadapi kebodohan orang lain. Padahal, menurut hasil penelitian yang dilakukan di Virginia Commonwealth University; seperti dikutip jurnal Intelligence, ukuran otak tidak ada kaitannya dengan kecerdasan. Dan mungkin tak ada orang yang benar-benar memiliki otak 1 ons. Ukuran otak manusia normalnya ada di kisaran 1,15 – 1,42 kg, kira-kira sebesar buah jeruk (grapefruit).

Otak yang besar umumnya dimiliki orang-orang di daerah Antartika karena diperlukan untuk mendukung fungsi penglihatan. Maklum, di bumi belahan ujung utara sana hanya sedikit mendapat kunjungan matahari, sehingga cuaca cenderung redup. Itu sebabnya mereka perlu daya penglihatan lebih ketimbang kita yang ada di khatulistiwa, supaya bisa memandang sekeliling.

Sementara penghuni kawasan Mikronesia memiliki otak yang relatif lebih kecil, tetapi tidak sampai 1 ons tentunya. Perempuan memiliki otak lebih kecil 11-12 persen ketimbang pria, tetapi hal itu tak berarti pria lebih cerdas.

“Hanya bangunan otaknya yang berbeda. Area otak yang berhubungan dengan kecerdasan pada pria berbeda dengan area otak yang berkaitan dengan kecerdasan pada perempuan. Setidaknya ada dua arsitektur otak yang berbeda yang mengarah ke tingkat kecerdasan yang sama antara pria dan perempuan,” ungkap Prof. Richard Haier, konsultan ilmu saraf di University of California, Irvine.

Perlu Banyak Energi

Mispersepsi lain yang sempat beredar puluhan tahun adalah pendapat bahwa kebanyakan dari kita baru menggunakan otak sekitar 10 persen. Bagian besar lainnya masih menganggur Anggapan itu kemudian dibantah oleh sejumlah ahli, antara lain oleh Barry Gordon, spesialis saraf dari Johns Hopkins School of Medicine, di Baltimore, AS.

“Bukti memperlihatkan, sepanjang hari kita menggunakan otak 100 persen,” tambah John Henley, spesialis otak dari Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, AS.

Bahkan, ketika kita tidur, jelasnya, area frontal cortex yang mengontrol pikiran tingkat tinggi dan kesadaran diri, atau area somato sensory yang membantu kita bisa merasakan sekeliling, tetap aktif.

Ia menyatakan bahwa pada satu waktu memang tak lebih dari 10 persen otak yang kita pakai, tetapi setiap harinya semua bagian otak kita fungsikan. Jadi tak ada yang dibiarkan terus menganggur.

Diingatkan bahwa setiap bagian otak memiliki fungsi masing-masing, seperti frontal lobe yang berkaitan dengan motorik, memori, kognisi, dan bahasa, lalu cerebral cortex yang bertugas mempelajari informasi baru, membuat keputusan, dll.

Jika setiap saat kita menggunakan setiap bagian otak secara bersamaan, tentu akan memerlukan banyak sekali energi tubuh. Sebagian energi tubuh kita, sekitar 20 persen, dialokasikan untuk fungsi normal otak. Itu artinya kita akan kekurangan energi untuk jalan kaki, bernapas, makan, mencerna makanan, dan kegiatan vital lainnya.

Seribu Tera

Secara fisik otak kita merupakan organ yang lunak, sebagian besar tersusun atas air (78 persen), lemak (10 persen), dan protein (8 persen). Di luar aspek fisik, sebetulnya banyak ilmuwan baru bisa menguak sedikit dari misteri yang menyelubungi otak. Hingga kini belum jelas diketahui tentang mimpi, kaitan antara alam sadar dan alam bawah sadar, hubungan antara otak dan pikiran, jiwa dan otak, dan banyak lagi hal lain, termasuk seberapa besar kapasitas otak.

Di era komputasi ini otak kita kerap diperbandingkan dengan “otak” komputer yang notabene ciptaan manusia itu. Di otak kita terdapat sekitar 100 miliar sel saraf (neuron). Antara sel-sel saraf itu memiliki koneksi. Para ahli menduga, dalam banyak koneksi itulah data (memori) tersimpan. Diperkirakan kapasitas otak kita untuk menyimpan data antara 1-1000 terabyte.

Seberapa pun ukuran otak kita, yang terpenting kita menyayanginya dengan memberinya makanan sehat, latihan teratur, menggunakannya hanya untuk hal positif dan bermanfaat bagi orang lain, juga mengistirahatkannya ketika lelah. Seperti halnya otot, otak juga bisa capai dan perlu rileks, terutama bila harus konsentrasi pada tugas yang sama dalam jangka waktu cukup lama.

Untuk menyegarkan kembali otak yang lelah, Dr. Marc Berman menyarankan untuk sejenak jalan-jalan di taman kota di antara pepohonan besar atau memandangi indahnya taman kecil yang hijau, ketimbang pergi ke pusat perbelanjaan yang sibuk.

“Menikmati keindahan alami akan meningkatkan performa memori hingga 20 persen. Sebaliknya, pergi ke tempat-tempat ramai malah akan menambah kecemasan,” ungkap peneliti dari Rotman Research Institute di Toronto, Kanada ini.

Nah, jika otak sedang keruh, carilah yang segar alami, supaya fresh lagi dan bisa bekerja secara efektif serta produktif. (GHS/E.Saptorini)

IPB Siapkan Green TV

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on October 15, 2011 in mine |

BOGOR, KOMPAS.com — Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam waktu dekat akan meluncurkan Green TV. Televisi penyedia isi (content provider) tersebut didedikasikan untuk pengembangan pertanian dan lingkungan menuju kehidupan yang lebih baik.

Rencana peluncuran Green TV tersebut dikemukakan Ketua Pengembangan Green TV Yatri Indah Kusumastuti dalam pelatihan jurnalistik IPB di Kampus Fakultas Kehutanan IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/10/2011).

“Kalau tidak ada halangan Green TV akan diluncurkan akhir bulan ini sekaligus penutupan rangkaian Dies Natalis IPB,” ujar Yatri.

Untuk mengisi acara, Green TV memanfaatkan materi dari internal IPB, baik dosen maupun mahasiswa. Beberapa acara yang disiapkan antara lain soal pertanian, hewan kesayangan, pertamanan, lingkungan, dan isu pertanian dalam arti luas lainnya. “Kami tidak akan menyiarkan hal-hal yang tidak etis seperti merokok atau kekerasan terhadap binatang,” kata Yatri.

Menurut catatan Kompas, perguruan tinggi yang punya siaran televisi adalah Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Jawa Tengah, yaitu TVKU.

about children

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on October 15, 2011 in mine |

KOMPAS.com – Mendandani si kecil, termasuk batita, selalu menyenangkan. Dengan sedikit tambahan aksesori, mereka pun tampil semakin gaya. Boleh saja memakaikan aksesori untuk batita. Hanya saja, ketika memilihkan jangan hanya mempertimbangkan estetika. Perhatikan juga kenyamanan dan keamanaan si batita.

Berikut panduan memilih aksesori untuk batita seperti disampaikan Fransisca M, Psi dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia:

1. Pastikan batita suka atau tidak dipakaikan aksesori tertentu. Ini bisa dilihat dari keseharian, kalau dipakaikan bando, ia akan berusaha melepaskannya, tapi kalau dikuncir ia tenang saja, umpama.

2. Jangan memasangkannya terlalu ketat, karena akan menghambat peredaran darah sehingga menyebabkan pening atau gatal saat berkeringat.

3. Kenakan aksesori secukupnya. Menguncir rambut menjadi lima bagian, meski lucu, ini terlalu berlebihan bagi batita.

4. Pilih aksesori yang ukurannya sesuai anatomi tubuh batita. Jepit rambut yang terlalu besar akan menghambat aktivitasnya dan membuatnya terlihat aneh, karena ukuran kepalanya yang masih kecil dan rambutnya sedikit.

5. Selain ukuran, pertimbangkan pula beratnya. Jepit dengan hiasan terbuat dari logam terlalu berat untuk batita dan bisa berbahaya kalau ia sampai terjatuh atau terantuk benda tersebut.

6. Pilih yang terbuat dari bahan katun yang nyaman. Saat ini banyak tersedia aksesori khusus untuk usia batita. Baik desain maupun pemilihan bahannya sudah disesuaikan.

7. Aksesori yang terlalu heboh, misalnya bisa berkedip-kedip atau bling-bling, akan menarik perhatian anak lain. Bisa jadi karena penasaran, temannya main tarik dan menyebabkan si kecil kesakitan.

8. Sebaiknya jangan membelikan aksesori yang terlalu mahal, meskipun orangtua mampu. Di usia ini, anak masih banyak bergerak sehingga aksesori yang dikenakannya seringkali hilang atau tercecer.

9. Pastikan aksesori tidak terlalu kecil atau ada hiasan kecil-kecil yang bisa tertelan anak.

10. Bahan yang digunakan aman untuk anak. Beberapa merek mainan terkenal juga mengeluarkan aksesori untuk anak dengan sertifikasi keamanan bahannya.

11. Tidak ada sisi yang runcing atau tajam pada aksesori. Gelang, kalung, cincin yang terbuat dari kain atau perca lebih disarankan karena aman daripada terbuat dari metal.

Tatar Sunda

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on September 30, 2011 in mine |

Genus artinya Gema Nusantara, diaman ini adalah acara tahunan di IPB yang menampilkan keaneka ragaman budaya di Indonesia, salah satunya budaya SUNDA.
Tatar sunda adalah nama organisasi daerah Jawa Barat, dan di dalamnya ada beberapa daerah dari mulai Cianjur, Bandung, Tasik, Garut, Kuningan, Ciamis, dan lainnya (maaf kalo gaa kesebut).
Setiap malam mereka berlatih demi pencapaian yang pagelaran yang maksimal, dan benar-benar menghibur, tapi bingungnya ada saja orang-oranng yang tidak peduli, eh maaf bukan tidak peduli tapi belum peduli dengan OMDAnya masing-masig….
Yah, itu hanya beberapa kekurangan saja tapi over all we are the best,,
TATAR SUNDA…
LOVING,CAREFUL AND UNITED..

KEKACAUAN DI CYBER SINGKONG

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on September 28, 2011 in Pelatihan |

Bagaimana bisa, banyak mahasiswa yang kesulitan ketika belajar Ilmu Informatika, mereka kesulitan mengikuti karena banyak yang lebih browsing ke alamat lain..
sehingga mengakibatkan ketertinggalan pembahasan…
*only joke (^0^)

2

Hello world!

Posted by MUHAMMAD EKO PRASETYO on September 26, 2011 in Uncategorized |

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Copyright © 2011-2015 muhammadep11s's blog All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.3, from BuyNowShop.com.